Model Pembelajaran Word-Problem Solving Membantu dalam Pemecahan Masalah Kata dan Meningkatkan Self-Efficacy Siswa

Posted by Ardianik
S3 Teknologi Pendidikan Unesa
on February 21, 2025

blog-post-image

llustration generate by AI

Abad ke-21 ditandai sebagai abad keterbukaan atau abad globalisasi, artinya kehidupan manusia pada abad ke-21 mengalami perubahan-perubahan yang fundamental yang berbeda dengan tata kehidupan dalam abad sebelumnya. Dikatakan abad ke-21 adalah abad yang meminta kualitas dalam segala usaha dan hasil kerja manusia. Dengan sendirinya abad ke-21 meminta sumber daya manusia yang berkualitas, yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga yang dikelola secara profesional sehingga membuahkan hasil unggulan.

Pendidikan merupakan salah satu sektor yang dapat menjawab tuntutan era globalisasi yang terus berkembang saat ini. Pendidikan memegang peranan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu berkompetisi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kehidupan global telah membuka tantangan sekaligus peluang baru bagi peran pendidikan untuk meningkatkan kompetensi lulusan yang mempunyai daya saing global. Menurut Wismath & Orr (2015), mengemukakan bahwa kompetensi dan keterampilan inti sumber daya manusia (SDM) abad 21 mencakup keterampilan pemecahan masalah, pemikiran kritis, kreativitas, inovasi, kolaborasi, dan komunikasi.

Salah satu bidang ilmu yang sangat penting dalam dunia pendidikan adalah matematika. Matematika merupakan ilmu yang urgent karena dapat digunakan untuk memudahkan kehidupan sehari-hari, hal tersebut karena setiap kegiatan, cara berpikir dan aktivitas manusia akan selalu mengembangkan ilmu matematika itu sendiri (Sari & Hasibuan, 2019; Maass, et al., 2019). Matematika adalah ilmu pasti, dan merupakan salah satu bidang ilmu yang mendasari pengembangan bidang keilmuan lainnya. Oleh karena itu, ilmu matematika akan selalu ditemukan di lingkungan sekolah serta dalam kehidupan sehari-hari (Yeh & Otis, 2019).

Model Word-Problem Solving Membantu Dalam Pemecahan Masalah Matematika Kata

Model pembelajaran word-problem solving adalah suatu model yang digunakan dalam pembelajaran matematika untuk membantu siswa dalam memahami dan menyelesaikan masalah matematika dalam bentuk cerita atau kata-kata (word-problems). Konsep ini bertujuan untuk membantu siswa dalam menghubungkan konsep matematika dengan situasi dunia nyata yang dijelaskan dalam bentuk cerita. Pada umumnya, masalah matematika dengan kata-kata memerlukan proses pemodelan matematika yang melibatkan pemahaman terhadap informasi yang diberikan dalam masalah, pemilihan operasi matematika yang tepat, dan pemecahan masalah menggunakan strategi yang sesuai. Oleh karena itu, model pembelajaran word-problem solving bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan-kemampuan tersebut melalui pendekatan yang sistematis dan terstruktur (Verschaffel & De Corte, 2000).

Model Word-problem solving (WPS) merupakan pemecahan masalah kata, yang mewakili penekanan utama di hampir setiap domain kurikulum matematika, juga merupakan parameter usia sekolah terbaik untuk pekerjaan dan keterampilan di masa dewasa. Namun, Word-problem (WP) merupakan kesulitan bagi banyak siswa, dan WPS menghadirkan tantangan bahkan ketika keterampilan berhitung memadai (Fuchs, L. et al., 2020). Pemecahan masalah kata matematika merupakan salah satu media terpenting di mana siswa berpotensi belajar memilih dan menerapkan strategi yang diperlukan untuk mengatasi masalah sehari-hari (Swanson, H. L., 2016). Namun, pemecahan masalah kata menantang bagi banyak anak. Dengan keterampilan aritmatika yang memadai, beberapa masih menunjukkan kesulitan yang terus-menerus dalam menyelesaikan soal cerita (Chan & Kwan, et al., 2021).  Pemahaman teks adalah prediktor kata yang lebih signifikan hasil pemecahan masalah kata dari pada perhitungan (yaitu, penjumlahan dan pengurangan).Temuan ini mendukung gagasan bahwa pemahaman bacaan sangat penting untuk pemecahan masalah kata. Oleh karena itu, siswa yang berjuang dengan pemrosesan bahasa dan pemahaman bacaan memiliki kebutuhan yang lebih kompleks ketika belajar memecahkan matematika yang dituangkan dalam soal cerita (Fuchs et al., 2018).

Word-Problem Solving (WPS) adalah bentuk kognisi matematis yang kompleks, yang membuat tuntutan kuat pada sumber daya kognitif. Merujuk pada kemampuan siswa untuk menganalisis, memahami, dan menyelesaikan masalah matematika yang diungkapkan dalam bentuk cerita atau kata-kata. Dalam Word- Problem Solving, siswa harus menguraikan informasi yang terkandung dalam cerita dan mengubahnya menjadi ekspresi matematika atau persamaan yang dapat dipecahkan untuk mendapatkan solusi numerik (Fuchs Lynn, et al., 2020).

Model Word-Problem Solving Meningkatkan Self-Efficacy Siswa

Selain aspek kognitif, diperlukan juga aspek afektif. Adanya aspek afektif dalam pembelajaran matematika akan menjadikan siswa memiliki rasa senang, rasa ingin tahu, minat dalam mempelajari matematika, serta memiliki sikap tekun, percaya diri dalam menyelesaikan masalah matematika. Salah satu aspek afektif yang perlu ditanamkan pada siswa adalah self-efficacy. Menurut Bandura (2006), Self-efficacy didefinisikan sebagai keyakinan seseorang bahwa dia memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas tertentu dengan sukses dan keyakinan ini berkaitan dengan kinerja dan ketekunan dalam berbagai usaha. Pengukuran self-efficacy mengacu pada tiga dimensi, yaitu: (a) level; (b) strength, dan (c) generality. Self-efficacy sangat penting ditanamkan bagi siswa, tujuannya agar mampu membentuk kepercayaan diri siswa dengan baik, karena siswa akan terlatih belajar dari pengalamannya serta tidak cepat putus asa dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.

Pemecahan masalah dapat dikuasai siswa dengan baik jika siswa menguasai kemampuan afektif, salah satunya adalah self-efficacy. Keyakinan akan membentuk suatu komitmen yang kuat dalam rangka merealisasikan target yang diinginkan. Model word-problem solving membantu siswa meningkatkan pemahaman terhadap konsep matematika. Ketika siswa mampu lebih baik dalam memecahkan masalah matematika yang diberikan dalam bentuk kata-kata, mereka akan merasa lebih percaya diri dalam kemampuan matematika mereka secara keseluruhan. Model WPS dapat membantu siswa mengembangkan pemecahan masalah dalam konteks yang nyata, siswa dapat memperoleh keyakinan diri kemampuan mereka untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari (Vicente & Verschaffel, 2020)

Simpulan

Model Word-Problem Solving adalah suatu model yang lebih terstruktur dalam pembelajaran matematika yang bertujuan untuk membantu siswa dalam memahami, menganalisis, dan memecahkan masalah matematika yang dirumuskan dalam bentuk narasi atau kata-kata (word problems), yang mempunyai pengaruh positif meningkatkan pemahaman konsep matematika, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, merangsang minat dalam matematika, meningkatkan retensi informasi, menyiapkan siswa untuk menghadapi situasi kehidupan nyata, yang berdampak dalam mengembangkan keterampilan pemecahan masalah.

Self-efficacy adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk mengatur dan melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil tertentu. Model WPS dapat mempengaruhi keyakinan diri siswa, meningkatkan motivasi intrinsik, model pembelajaran yang kolaboratif, feedback positif dan reflektif, mengembangkan keterampilan kognitif dan metakognitif. Siswa yang merasa lebih percaya diri dalam menghadapi masalah kata, lebih termotivasi untuk belajar dan mengembangkan keterampilan mereka yang berkaitan erat dengan peningkatan self-efficacy, karena siswa merasa lebih mampu mengontrol dan mengarahkan proses belajar mereka.


Sumber Referensi    

Bandura, A. (2006). Guide for Constructing Self-Efficacy Scales. In F. Pajares & T. Urdan (Eds.), Self-Efficacy Beliefs of Adolescents (pp. 307-337). Greenwich, CT: Information Age Publishing.

Chan, Winnie. W. L., & Kwan, J. L. Y. (2021). Pathways to word problem solving: The mediating roles of schema construction and mathematical vocabulary. Contemporary   Educational Psychology65, 101963.

Fuchs, L. S., Gilbert, J. K., Fuchs, D., Seethaler, P. M., & Martin, B. (2018). Text comprehension and oral language as predictors of word-problem solving:         Insights in to word-problem solving as a form of text comprehension. Scientific Studies of Reading, 22,152–166. https ://doi.org/10.1080/10888      438.2017.13982 59.

Fuchs, L., Fuchs, D., Seethaler, P. M., & Barnes, M. A. (2020). Addressing the role of working memory in mathematical word-problem solving when designing intervention for struggling learners. ZDM52, 87-96.

Maass, K., Geiger, V., Ariza, M. R., & Goos, M. (2019). The role of mathematics in interdisciplinary STEM education. ZDM, 51(6), 869-884.

Swanson, H. L. (2016). Word problem solving, working memory and serious math difficulties: Do cognitive strategies really make a difference?.Journal of Applied Research in Memory and Cognition, 5(4), 368-383.

Sari, N. K., & Hasibuan, N. H. (2019). Pengaruh Kedisiplinan, Rasa Percaya Diri, dan Kecerdasan Logis Matematis Terhadap Hasil Belajar Matematika. PYTHAGORAS:Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika, 9(1), 49-59.

Verschaffel, L., Greer, B., & De Corte, E. (2000). Making sense of word problems solving. L. Erlbaum Associates.

Vicente, S., Sánchez, R., & Verschaffel, L. (2020). Word problem solving approaches in mathematics textbooks: a comparison between Singapore           and Spain. European Journal of Psychology of Education, 35(3),567–587.

Wismath, S. L., & Orr, D. (2015). Collaborative Learning in Problem Solving: A Case Study in Metacognitive Learning Collaborative Learning in Problem.

Yeh, C., & Otis, B. M. (2019). Mathematics for whom: Reframing and humanizing         mathematics. Occasional Paper Series, 2019(41), 8.