Dunia tempat peserta didik belajar tidak pernah benar-benar diam. Teknologi berkembang, informasi semakin mudah diperoleh, cara manusia berkomunikasi berubah, dan kebutuhan masyarakat terus bergeser. Perubahan itu juga terlihat pada kompetensi yang dibutuhkan di masa depan. Future of Jobs Report 2025 memperkirakan sekitar 39 persen keterampilan inti pekerja akan berubah pada 2030 akibat perkembangan teknologi, perubahan ekonomi, dan berbagai transformasi lainnya. World Economic Forum Reports Jika dunia yang akan dimasuki peserta didik terus berubah, wajar jika kita mulai bertanya: apakah kurikulum yang mempersiapkan mereka juga cukup mampu berubah?
Kurikulum sering kali masih dipahami sebagai sesuatu yang selesai ketika dokumennya telah disusun dan ditetapkan. Setelah tujuan dirumuskan, materi ditentukan, kegiatan pembelajaran disiapkan, dan evaluasi dirancang, seolah-olah tugas pengembangan kurikulum telah berakhir. Padahal kurikulum baru benar-benar bertemu dengan kenyataan ketika diterapkan kepada peserta didik. Pada tahap itulah kita dapat mengetahui apakah materi yang dipilih masih relevan, apakah metode pembelajaran benar-benar membantu, dan apakah bentuk evaluasi mampu menunjukkan apa yang sebenarnya telah dipelajari.
Kurikulum yang tidak pernah ditinjau kembali berisiko semakin jauh dari kehidupan peserta didik. Apa yang dianggap efektif beberapa tahun lalu belum tentu bekerja dengan cara yang sama hari ini. Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), misalnya, telah mengubah cara seseorang memperoleh informasi, membuat tulisan, mencari ide, menerjemahkan teks, bahkan menyelesaikan persoalan. UNESCO juga menilai perkembangan AI generatif membawa konsekuensi jangka panjang terhadap cara pendidikan memahami pengetahuan, menentukan isi dan hasil belajar, merancang metode pembelajaran, serta melakukan asesmen. UNESCO menilai perubahan teknologi memberikan kesempatan untuk memeriksa kembali cara kita merancang pembelajaran melalui kacamata makro dalam kurikulum.
Kurikulum sebagai Proses yang Terus Bergerak
Gagasan bahwa kurikulum harus mampu merespons kenyataan dapat ditemukan dalam pembahasan Laurie Brady mengenai model pengembangan kurikulum. Brady mengkaji beberapa pendekatan dalam pengembangan kurikulum, termasuk objectives model dan interaction model. Dalam model tujuan, proses perencanaan cenderung dimulai dari perumusan tujuan, kemudian bergerak menuju pemilihan isi, metode, dan evaluasi. Sebaliknya, model interaksi menggunakan unsur yang sama yaitu tujuan, isi, metode, dan evaluasi. Tetapi hubungan di antara unsur tersebut lebih lentur. Brady sendiri meneliti penggunaan dan preferensi terhadap model-model pengembangan kurikulum tersebut dalam praktik perencanaan guru.
Model interaksi menjadi menarik karena pengembangan kurikulum tidak harus selalu berjalan dalam satu urutan yang kaku. Penjelasan terhadap model yang diidentifikasi Brady menunjukkan bahwa pengembang kurikulum dapat memulai dari salah satu unsur dan bergerak ke unsur lain sesuai dengan kebutuhan. Sebuah keputusan mengenai metode, misalnya, dapat membuat tujuan atau isi perlu ditinjau kembali. Demikian pula, hasil evaluasi dapat memberikan informasi bahwa metode yang digunakan belum tepat atau materi yang dipilih perlu diperbaiki. Dengan demikian, evaluasi bukan semata-mata titik akhir, melainkan sumber informasi bagi pengembangan kurikulum berikutnya.
Cara pandang tersebut membuat kurikulum lebih dekat dengan kenyataan pembelajaran yang memang tidak selalu dapat diprediksi sejak awal. Guru dapat merencanakan pembelajaran dengan sangat baik, tetapi peserta didik mungkin memberikan respons yang berbeda dari perkiraan. Materi yang dianggap mudah ternyata sulit dipahami. Metode yang biasanya efektif tidak bekerja pada kelompok peserta didik tertentu. Sebaliknya, suatu aktivitas sederhana justru mampu membangkitkan rasa ingin tahu dan menghasilkan pembelajaran yang lebih mendalam. Dalam situasi seperti itu, mempertahankan seluruh rencana hanya karena sudah ditetapkan sejak awal belum tentu menjadi pilihan terbaik.
Ketika AI Berpotensi Menguji Kurikulum Kita
Perkembangan AI memberikan contoh nyata mengapa kurikulum perlu memiliki kemampuan untuk meninjau dirinya sendiri. Bayangkan tujuan pembelajaran adalah melatih peserta didik menyusun argumentasi melalui tugas esai. Sebelum AI generatif tersedia secara luas, produk tulisan dapat relatif lebih mudah digunakan sebagai salah satu indikator proses berpikir peserta didik. Sekarang, sebuah tulisan yang tampak runtut bahkan dapat dihasilkan dalam waktu singkat dengan bantuan teknologi. Persoalannya kemudian mulai fokus pada apakah tugas yang kita berikan masih mengukur kemampuan yang sebenarnya ingin diukur.
Perubahan pada cara evaluasi dapat mendorong perubahan pada cara belajar. Jika tujuan pembelajaran adalah kemampuan membangun argumentasi, peserta didik mungkin tidak cukup hanya menyerahkan tulisan. Mereka dapat diminta menjelaskan alasan di balik pendapatnya, membandingkan beberapa sumber, menemukan kelemahan jawaban yang dihasilkan AI, atau mempertahankan gagasannya dalam diskusi. Dengan cara seperti itu, teknologi dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar yang menuntut kemampuan berpikir lebih dalam.
Perubahan tersebut bahkan dapat membuat kita mempertanyakan kembali tujuan pembelajaran itu sendiri. Apakah tujuan kita benar-benar agar peserta didik mampu menghasilkan sebuah esai, atau agar mereka mampu berpikir kritis, mengolah informasi, menyusun alasan, dan bertanggung jawab terhadap gagasannya? Pertanyaan ini penting karena kadang-kadang kita terlalu lama mempertahankan bentuk kegiatan belajar hingga lupa pada kemampuan yang sebenarnya ingin dibangun. Dalam kerangka interaksi menurut Brady, tujuan, isi, metode, dan evaluasi dapat saling mengoreksi agar pembelajaran tidak terjebak pada rutinitas.
Model interaksi dalam kajian Laurie Brady memberi kita cara sederhana untuk memahami hal tersebut. Kurikulum terdiri atas keputusan-keputusan yang saling berhubungan. Tujuan memberi arah tentang kemampuan yang ingin dibangun. Isi menentukan apa yang perlu dipelajari. Metode membentuk pengalaman belajar peserta didik. Evaluasi membantu kita melihat apa yang benar-benar terjadi. Dengan demikian, kemampuan kurikulum untuk beradaptasi tidak sama dengan kemampuan untuk mengikuti tren. Adaptif berarti mampu meninjau kembali keputusan yang telah dibuat tanpa kehilangan arah pendidikan yang ingin dituju.
Penutup
Model Interaksi dalam pembahasan Laurie Brady mengingatkan bahwa kurikulum merupakan rangkaian keputusan yang saling berhubungan. Tujuan memberi arah, isi menyediakan apa yang dipelajari, metode membentuk pengalaman belajar, dan evaluasi membantu melihat apa yang telah terjadi. Namun keempatnya tidak harus diperlakukan sebagai kotak-kotak yang tidak dapat disentuh kembali. Kenyataan dalam pembelajaran dapat menjadi alasan untuk meninjau, memperbaiki, dan menyelaraskan kembali keputusan yang telah dibuat.
Pada akhirnya, kurikulum yang baik adalah kurikulum yang tahu mengapa dan kapan ia perlu berubah. Dunia terus bergerak, tetapi pendidikan tidak harus berlari mengikuti setiap perubahan tanpa pertimbangan. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk mendengar apa yang terjadi pada peserta didik, membaca perubahan lingkungan, kemudian menyesuaikan pembelajaran tanpa kehilangan tujuan utamanya.
Mungkin karena itulah kurikulum yang baik tidak pernah benar-benar selesai. Ia selesai sebagai dokumen untuk sementara waktu, tetapi terus hidup ketika bertemu dengan guru, peserta didik, teknologi, dan masyarakat. Selama manusia dan dunia tempat mereka belajar masih berubah, kurikulum juga perlu terus belajar.
Referensi
Brady, L. (1986). “Models for Curriculum Development.” Curriculum and Teaching, 1(1–2), 25–32. STARS
Brady, L. (1987). “The Relationship Between Models and Methods in School Based Curriculum Development.” Curriculum Perspectives, 7, 47–52. STARS
UNESCO. (2023). Guidance for Generative AI in Education and Research. Paris: UNESCO. UNESCO
World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report 2025. Geneva: World Economic Forum.