Beberapa tahun terakhir, Outcome-Based Education atau OBE semakin akrab di perguruan tinggi Indonesia. Dosen mengikuti pelatihan OBE, program studi menata kurikulum, dan dokumen pembelajaran kini dipenuhi istilah Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), Sub-CPMK, rubrik asesmen, hingga pengukuran ketercapaian outcome.
Arah ini bukan muncul tiba-tiba. Orientasi kurikulum berbasis capaian telah menguat sejak terbitnya Standar Nasional Pendidikan Tinggi melalui Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 dan Panduan Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi pada tahun yang sama. Kebijakan berikutnya semakin menegaskan pentingnya capaian pembelajaran dan penjaminan mutu. Hingga 2026, regulasinya memang telah berganti, tetapi arahnya relatif konsisten. Perguruan tinggi didorong untuk memikirkan apa yang benar-benar dicapai mahasiswa di akhir pembelajaran.
Namun setelah beberapa tahun perguruan tinggi semakin akrab dengan OBE, muncul pertanyaan yang menarik. Apakah OBE benar-benar membawa cara pandang baru terhadap pembelajaran, atau sebenarnya kita sedang memberi nama baru pada praktik berorientasi tujuan yang sudah lama dikenal?
Pertanyaan ini terasa dekat jika dilihat dari bidang Teknologi Pendidikan.
Dalam mata kuliah pengembangan media, misalnya, mahasiswa tidak hanya diminta menjelaskan pengertian media pembelajaran. Mereka dapat diminta menganalisis kebutuhan, merancang media, mengembangkan produk, melakukan uji coba, hingga memperbaikinya. Pada mata kuliah desain pembelajaran, mahasiswa juga tidak berhenti pada menghafalkan tahapan suatu model, tetapi dapat diminta menghasilkan rancangan pembelajaran. Artinya, hubungan antara tujuan, aktivitas belajar, dan produk yang dihasilkan mahasiswa sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya asing. Bahkan sebelum istilah OBE semakin populer, pembelajaran berbasis proyek, praktik, pengembangan produk, dan pemecahan masalah telah menjadi bagian penting dalam Teknologi Pendidikan.
Lantas, apa yang sebenarnya berubah ketika praktik-praktik tersebut sekarang disebut sebagai bagian dari OBE?
Pertanyaan ini membawa kita kembali pada Ralph W. Tyler. Dalam Basic Principles of Curriculum and Instruction pada 1949, Tyler telah mengajukan empat pertanyaan mendasar: tujuan pendidikan apa yang ingin dicapai, pengalaman belajar apa yang perlu diberikan untuk mencapai tujuan tersebut, bagaimana pengalaman itu diorganisasikan, dan bagaimana kita mengetahui bahwa tujuan telah tercapai. Jika dibaca sekarang, logikanya terdengar sangat familiar. Tentukan tujuan, rancang pengalaman belajar, kemudian evaluasi pencapaiannya.
OBE juga berangkat dari logika yang hampir serupa. William Spady menekankan bahwa pendidikan harus diorganisasikan berdasarkan apa yang pada akhirnya benar-benar mampu ditunjukkan oleh peserta didik. Perbedaannya terletak pada penekanan terhadap demonstrable outcomes, tentang apa yang mampu mereka lakukan setelah belajar.
Dalam Teknologi Pendidikan, hal ini mudah terlihat. Jika mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan media pembelajaran, maka salah satu bukti yang masuk akal adalah melihat media yang benar-benar mereka kembangkan. Jika mahasiswa diharapkan mampu merancang pembelajaran, maka mereka perlu menghasilkan rancangan.
Pada titik ini, OBE memang tampak berjalan. Tetapi justru di sinilah pertanyaan yang lebih kritis perlu diajukan.
Apakah keberadaan proyek atau produk otomatis menunjukkan bahwa pembelajaran benar-benar berbasis outcome?
Belum tentu.
Mahasiswa dapat saja menyelesaikan proyek membuat media karena sejak awal tugas mata kuliahnya memang “membuat media”. Produk selesai, dipresentasikan, mendapat nilai, kemudian semester berakhir. Namun OBE seharusnya mendorong pertanyaan lebih jauh: kemampuan apa sebenarnya yang hendak dibentuk melalui proyek tersebut?
Apakah yang dinilai sekadar kemampuan menghasilkan media? Atau mahasiswa juga mampu mengidentifikasi masalah belajar yang mendasarinya, memahami karakteristik pengguna, menjelaskan alasan memilih teknologi tertentu, menguji efektivitas produknya, membaca data evaluasi, dan memperbaiki produk berdasarkan bukti?
Dua mahasiswa mungkin sama-sama menghasilkan aplikasi pembelajaran yang menarik. Tetapi jika satu aplikasi dibuat terutama karena terlihat bagus, sedangkan yang lain lahir dari analisis kebutuhan, keputusan desain yang dapat dipertanggungjawabkan, uji coba, dan revisi, maka kualitas outcome yang dihasilkan tentu berbeda. Di sinilah OBE seharusnya lebih dari sekadar kesesuaian antara “belajar media” dan “tugas membuat media”.
John Biggs menyebut pentingnya constructive alignment: capaian, aktivitas mahasiswa, dan asesmen perlu saling terhubung. Namun keselarasan saja belum menjawab seluruh persoalan. Kita masih perlu bertanya: outcome seperti apa yang sebenarnya kita anggap penting?
Tyler menarik untuk dibaca kembali karena ia tidak berhenti pada cara mencapai tujuan. Ia juga mempertanyakan dari mana tujuan pendidikan berasal. Tujuan perlu mempertimbangkan peserta didik, kehidupan masyarakat, perkembangan bidang ilmu, pandangan ahli, filsafat pendidikan, serta bagaimana manusia belajar. Pertanyaan ini terasa semakin penting dalam Teknologi Pendidikan saat teknologi berubah sangat cepat.
Apakah lulusan Teknologi Pendidikan harus mampu menguasai sebanyak mungkin perangkat digital? Haruskah mereka mahir menggunakan aplikasi yang sedang populer? Atau outcome yang lebih penting justru kemampuan menganalisis masalah belajar, merancang solusi yang tepat, memilih teknologi secara kritis, mengevaluasi dampaknya, dan beradaptasi ketika teknologinya berubah? Jika kita terlalu cepat menyamakan outcome dengan produk, ada risiko pendidikan berubah menjadi daftar kemampuan teknis.
Mahasiswa mampu membuat video, mampu membuat LMS. mampu membuat multimedia interaktif, mampu menggunakan kecerdasan artifisial. Semua itu dapat berguna. Tetapi Teknologi Pendidikan tentu lebih luas daripada kemampuan menggunakan atau menghasilkan teknologi tertentu. Pertanyaan pentingnya adalah: untuk masalah belajar apa teknologi itu digunakan, mengapa dipilih, bagaimana dirancang, dan apakah benar menghasilkan perubahan yang diharapkan?
Di sinilah pembacaan Tyler terhadap OBE menjadi relevan.
Persoalannya mulai difokuskan apakah proyek, asesmen, dan pengalaman belajar tersebut benar-benar lahir dari outcome yang telah dipikirkan secara serius. Karena sebuah kurikulum bisa saja sangat selaras. CPL diturunkan menjadi CPMK, CPMK diterjemahkan menjadi proyek, proyek dinilai dengan rubrik, dan angka ketercapaiannya dilaporkan dengan rapi. Namun masih ada satu pertanyaan sebelum semuanya itu: Mengapa outcome tersebut yang kita pilih? Apakah karena benar-benar dibutuhkan mahasiswa dan masyarakat? Apakah sesuai perkembangan bidang Teknologi Pendidikan? Apakah menjawab persoalan pembelajaran hari ini dan masa depan? Atau karena outcome itu mudah diterjemahkan menjadi mata kuliah, proyek, dan angka ketercapaian?
Karena itu, mungkin tantangan OBE di perguruan tinggi saat ini akan lebih sulit karena harus memastikan bahwa seluruh aktivitas pembelajaran memang bergerak menuju capaian yang bermakna. Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan sekadar, “Apakah mahasiswa sudah menghasilkan media?” Akan tetapi berubah menjadi “Setelah membuat media itu, kemampuan apa yang benar-benar terbentuk dalam diri mahasiswa, dan mengapa kemampuan tersebut penting?” Jika pertanyaan itu menjadi titik awal penyusunan kurikulum, OBE memang menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar istilah baru. Tetapi jika kita hanya mengganti “tujuan” menjadi “outcome”, sementara alasan mengapa outcome itu dipilih tidak pernah sungguh-sungguh dipertanyakan, mungkin yang berubah memang lebih banyak bahasanya daripada paradigmanya.
Penulis: Tinezia Cendani, S.Pd.,M.Pd